Di Bawah Genteng Seng

Seorang kolega pernah bilang kepadaku — setelah meeting berakhir, santai, tidak ada niat buruk — “wah, kerja dari Jogja enak ya, kayak liburan.”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena tersinggung. Bukan juga karena tidak punya jawaban. Tapi karena jawabannya terlalu panjang untuk sela-sela rapat, dan sebagian dari aku tahu: dia tidak salah. Dia hanya tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.


Kotagede bukan liburan.

Kotagede adalah gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui mobil, rumah-rumah lama dengan tembok tebal yang menyimpan dingin, dan suara palu dari bengkel perak yang mulai jam enam pagi — termasuk dari bengkel Bapak, yang ada di belakang rumahku. Kotagede adalah warung Emak di depan rumah, yang sudah buka sebelum aku sempat bikin kopi. Kotagede adalah hujan malam yang menghantam genteng seng dan mengubah seluruh rumah jadi ruang resonansi — bukan annoying, tapi seperti seseorang menepuk bahu dan bilang “tidur, sudah malam.”

Ini bukan liburan. Ini tempat yang tahu namaku.

Jadi ketika orang bertanya kenapa aku tidak pindah ke Jakarta — dan mereka selalu bertanya, kadang langsung, kadang dengan cara lain: “kapan ke Jakarta?”, “nggak pengen coba ngantor di sana?” — aku mengerti apa yang sebenarnya mereka tanyakan.

Mereka tanya: kenapa kamu tidak membuktikan dirimu di tempat yang lebih besar?


Aku bisa menjawab dengan angka. Gaji senior engineer di Jogja, dikurangi biaya hidup Jogja, menghasilkan surplus yang lebih nyaman daripada gaji yang sama di Jakarta setelah dikurangi kos, transport, dan kemungkinan besar makan siang yang mahal karena tidak ada warung Emak. Tapi argumen ekonomi ini membosankan — dan juga bukan alasannya.

Alasan sebenarnya lebih sederhana dan sekaligus lebih susah dijelaskan.

Jakarta adalah kota tempat kamu membuktikan diri. Kotagede adalah tempat yang sudah tahu kamu — dan tidak peduli apakah kamu perlu dibuktikan.


Ada hal-hal yang hanya ada karena aku di sini.

Setiap pagi, ada suara palu dari bengkel Bapak yang mulai sebelum aku bangun — itu jam kerjaku. Bukan alarm, tapi tetap kerja. Ada kopi hitam dari panci Bapak yang selalu tersisa sedikit, dan aku sudah mencuri dari panci itu sejak SMA. Ada Kopi — kucing hitamku, dinamai dari kebiasaan itu — yang tahu persis lima belas menit sebelum jam makan siang bahwa aku sudah mulai lapar (caranya: duduk di keyboard).

Kalau aku pindah, semua ini tidak ikut.

Bukan “semua ini bisa dicari gantinya.” Tidak ada gantinya. Ini bukan fitur generik dari kehidupan remote worker — ini fitur spesifik dari hidup di rumah yang sama tempat aku tumbuh, di gang yang sama yang dulu aku lewati pulang sekolah. Tingkat spesifisitas ini tidak bisa direplikasi. Bisa kamu dapat kehidupan yang sebanding di kota lain? Mungkin. Tapi bukan ini.

Dan ini yang aku pilih.


Memilih Jogja bukan berarti tidak tahu Jakarta. Aku cukup tahu Jakarta untuk tahu bahwa aku tidak perlu tinggal di sana untuk melakukan pekerjaan yang aku lakukan. Aku juga cukup tahu diri sendiri untuk tahu bahwa hidup yang terasa settled — dalam arti yang bukan “menyerah,” tapi “aku tahu di mana aku mau berdiri” — lebih berharga daripada hidup yang terus bergerak untuk membuktikan sesuatu kepada orang yang tidak akan pernah cukup terkesan.

Bedanya: ada yang pergi ke Jakarta karena ingin tumbuh ke sana. Ada yang pergi karena merasa harus.

Aku tidak merasa harus. Dan karena aku tidak perlu, aku bisa memilih.

Memilih bukan berarti takut. Memilih berarti kamu cukup tahu apa yang kamu mau sehingga tidak perlu ikut arus default.


Malam ini hujan.

Genteng seng lagi-lagi bersuara — tik tik tik, bertahap, lalu penuh. Kopi naik ke kasur dan nempel di kakiku karena hujan membuatnya clingy. Di belakang rumah, bengkel Bapak sudah gelap — dia berhenti lebih awal kalau hujan, karena lembap tidak bagus untuk hasil pateri perak. Di depan, warung Emak sudah tutup, tapi lampu teras masih menyala.

Aku duduk dengan laptop, secangkir kopi kedua hari ini, dan pekerjaan yang bisa kulakukan dari mana saja.

Aku memilih di sini.

Bukan karena tidak ada pilihan lain. Justru karena ada.

← back to writing